Coba ingat kembali: apa yang sesungguhnya kamu kendalikan dari keberadaanmu sendiri? Kamu tidak memilih untuk dilahirkan. Tidak memilih dua orang tua yang melahirkanmu. Tidak memilih tanggal, tempat, jenis kelamin, atau nama. Semua itu datang kepadamu dari luar dirimu — diberikan. Menyadari ini bukan membuat kita kecil; justru di sinilah akar memanusiakan manusia lain dimulai.
Yang tidak pernah kamu pilih
Jika kita jujur, hampir seluruh “identitas” yang kita banggakan atau sesali bukan pilihan kita: suku, bahasa ibu, tanah kelahiran, wajah, potensi tubuh, kecenderungan hati — semua diterima, bukan diciptakan. Bahkan nama, yang kita anggap paling “aku”, diberikan orang lain sebelum kita bisa memilih. Al-Qur'an mengarahkan kita merenungkan asal-usul ini:
La ta'lamuna syai'an — kamu tidak mengetahui apa pun. Kita lahir dalam keadaan tidak tahu, tanpa membawa apa pun, di waktu dan tempat yang tidak kita tentukan. Ini bukan kebetulan: ia desain yang mengajarkan satu pelajaran — keberadaanmu adalah pemberian, bukan prestasimu. Sebelum kamu berbuat apa pun, kamu sudah menerima.
Dua orang tua: pintu yang Allah tetapkan
Kamu hadir melalui dua manusia yang juga tidak memilih untuk menjadi orang tuamu — dan pertemuan mereka pun di luar kendalimu. Al-Qur'an menjelaskan prosesnya sebagai ketetapan dan pembentukan dari Allah:
Nuthfatin amsyaj — setetes mani yang bercampur: dari dua orang tua, dua garis kehidupan bertemu. Dan dari percampuran itu, Allah membentuk — yushawwirukum fil-arham — sesuai kehendak-Nya. Dua orang tua adalah perantara; yang menciptakan dan membentuk adalah Allah. Karena itu, menghormati orang tua bukan sekadar membalas budi — ia mengakui bahwa Allah menetapkan mereka sebagai pintu kedatanganmu ke dunia, dan Al-Qur'an menggandengkan ihsan kepada keduanya langsung setelah perintah beribadah kepada-Nya.
Anak, jenis kelamin, dan keturunan: karunia, bukan kendali
Logika yang sama berlaku ketika kita menoleh ke arah sebaliknya — memiliki anak atau tidak, laki-laki atau perempuan:
Ayat ini memuat empat kemungkinan — anak perempuan, anak laki-laki, keduanya, atau tidak diberi anak — dan semuanya disandarkan kepada kehendak Allah. Tidak ada satu pun yang menjadi prestasi atau aib manusia. Ini menumbuhkan dua sikap sekaligus: syukur atas apa yang diberi (tidak merendahkan anak perempuan, tidak menganggap anak laki-laki lebih unggul), dan ketenangan atas apa yang belum diberi (tidak putus asa, tidak menyalahkan). Kesadaran bahwa jenis kelamin, keturunan, dan waktu kedatangan anak adalah karunia Allah — bukan kendali kita — memanusiakan kita dan orang-orang di sekitar kita: tidak ada manusia yang lebih mulia karena punya anak laki-laki, dan tidak ada yang hina karena belum diberi keturunan.
Dari kesadaran “aku diberi” menuju “mereka pun diberi”
Inilah jembatan menuju memanusiakan manusia: jika aku hadir tanpa kendali atas diriku, maka setiap manusia lain pun hadir tanpa kendali atas dirinya. Orang yang kutemui di jalan, yang bekerja untukku, yang berbeda suku dan bahasa denganku — sama-sama titipan Allah yang diberi hidup, orang tua, tanggal, dan nama tanpa diminta. Tidak ada satu pun dari kita yang “membuat dirinya sendiri” — maka tidak ada yang berhak merasa lebih unggul karena asal-usulnya, dan tidak ada yang pantas direndahkan karena asal-usulnya.
Kesadaran ini juga mengubah cara kita memperlakukan orang tua, pasangan, dan anak: mereka bukan “milikku” yang bisa kuperlakukan sesukanya — mereka titipan Allah yang sama-sama diuji. Ayah dan ibu adalah manusia yang juga pernah lahir tanpa memilih, yang juga akan dimintai pertanggungjawaban atas hidupnya sendiri. Pasangan dan anak adalah amanah, bukan kepemilikan. Ketika relasi dipahami sebagai “dua titipan Allah yang saling diberi peran”, maka perlakuan kita berubah: dari menuntut, menjadi menjaga; dari merasa berhak, menjadi merasa diberi amanah.
Dan di ujung semua ini, ada satu pengakuan yang merangkum seluruh pembahasan — kita tidak menciptakan diri sendiri, maka kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri; kita semua sama-sama butuh kepada Allah dan sama-sama akan kembali kepada-Nya:
Siapa yang sadar dirinya fakir kepada Allah — tidak akan sombong di hadapan siapa pun, karena semua sama-sama hamba. Siapa yang sadar hidupnya diberi — akan mudah memberi dan menghargai pemberian pada orang lain. Inilah akar memanusiakan manusia: mulai dari mengakui bahwa aku sendiri tidak pernah menjadi tuan atas keberadaanku.