Kita telah mengenal Allah sebagai Awal segalanya, dan tujuan penciptaan sebagai arah segalanya. Sekarang kita menatap alam yang terbentang — dan menemukan bahwa alam bukan tandingan wahyu, melainkan ayat kedua dari Penulis yang sama. Sains dan iman tidak berperang; keduanya membaca dua kitab yang tidak mungkin bertentangan.
Alam: kitab yang tidak berbicara dengan huruf
Allah memberi manusia dua “kitab”. Pertama, kitab yang dibaca: Al-Qur'an, firman-Nya. Kedua, kitab yang diamati: alam semesta, ciptaan-Nya. Keduanya berasal dari sumber yang sama, maka keduanya tidak mungkin bertentangan — dan keduanya disebut Al-Qur'an sebagai ayat (tanda): sesuatu yang menunjuk kepada kebenaran di baliknya. Alam semesta adalah kumpulan ayat yang tidak berbicara dengan huruf, tetapi dengan keteraturan yang bisa dibaca akal.
Allah menantang manusia untuk membaca alam itu dengan jujur:
Ayat ini memerintahkan penelitian — dalam bahasa Al-Qur'an sendiri: lihat berulang-ulang, teliti, cari cacat. Dan hasilnya sudah dijamin: mata yang meneliti alam dengan jujur tidak akan menemukan ketidakseimbangan; ia akan pulang “letih” karena takjub. Inilah yang dialami para ilmuwan sejati: semakin dalam mereka meneliti alam, semakin besar keteraturan yang mereka temukan — dan keteraturan yang konsisten adalah tanda perancang yang konsisten.
Sunnatullah: sifat Allah yang bekerja
Sekarang kita sampai pada kata kunci anak tangga ini: sunnatullah — kebiasaan Allah, hukum-hukum yang Allah tetapkan dan jalankan secara konsisten di alam. Al-Qur'an menggambarkan keteraturan ini dengan presisi yang menakjubkan:
Perhatikan kata-katanya: taqdir (ketetapan yang presisi), hisban (perhitungan), kullun fi falakin yasbahun (masing-masing berenang di garis edarnya). Bahasa ini adalah bahasa hukum alam — dan ia turun empat belas abad sebelum manusia merumuskan mekanika langit. Yang ingin ditegaskan Al-Qur'an bukanlah detail astronomi, melainkan sebuah klaim besar: keteraturan alam bukan kebetulan, tetapi sunnatullah — cara Allah yang tetap menjalankan ciptaan-Nya. Matahari “tidak mungkin” mengejar bulan; malam “tidak dapat” mendahului siang — karena Allah menetapkannya demikian, dan ketetapan-Nya tidak berubah.
Di sinilah konsep sunnatullah menjembatani iman dan sains: hukum alam yang ditemukan para ilmuwan adalah sunnatullah yang terbaca. Gravitas, peredaran planet, reaksi kimia, hukum termodinamika — semuanya adalah “kebiasaan” Allah yang konsisten. Sains dimungkinkan justru karena alam ini dijalankan oleh Satu yang tidak berubah-ubah: jika alam dikendalikan oleh dewa-dewa yang bertengkar atau kebetulan yang liar, tidak akan ada hukum yang bisa ditemukan. Konsistensi alam yang menjadi asumsi dasar setiap ilmuwan adalah jejak al-Qayyum — yang terus mengurus ciptaan-Nya dengan aturan yang tetap, sebagaimana telah kita lihat pada anak tangga pertama.
Ayat di ufuk dan ayat di diri sendiri
Al-Qur'an bahkan menjanjikan bahwa tanda-tanda ini akan terus terbukti — baik di ufuk (alam yang jauh) maupun di diri manusia sendiri:
Ayat ini sering dibaca para ulama sebagai isyarat bahwa penemuan-penemuan ilmiah di masa depan — tentang alam (ufuk) dan tentang tubuh manusia (diri sendiri) — justru akan memperjelas kebenaran Al-Qur'an, bukan melemahkannya. Semakin banyak yang manusia temukan tentang alam, semakin banyak ayat Allah yang terbaca. Masalahnya bukan pada ilmu; masalahnya pada hati yang membaca tanpa mengingat siapa Penulisnya.
Alam ditundukkan untuk manusia — ujian tanggung jawab
Ada satu lagi dimensi sunnatullah yang sering terlewat: keteraturan alam bukan hanya untuk dikagumi, tetapi juga ditundukkan bagi manusia — dan penundukan itu adalah amanah:
Sakhkhara — menundukkan. Laut, langit, bumi, dan isinya ditundukkan Allah untuk manusia. Inilah makna khalifah yang disebut pada anak tangga kedua: manusia diberi kunci alam — bukan untuk merusaknya, tetapi untuk mengelolanya dengan syukur. Ketika manusia mempelajari hukum alam lalu membangun kapal, jembatan, dan teknologi, ia sedang memakai sunnatullah — dan ketika ia melakukannya sambil bersyukur dan mengingat Pemberi hukum, kerjanya menjadi ibadah. Ilmu dan teknologi bukan hal duniawi yang jauh dari Allah; ia adalah cara manusia membaca dan memakai sunnatullah — dengan syarat ia tidak lupa siapa yang menundukkan alam itu.
Sunnatullah juga berlaku pada kehidupan sosial
Penting dicatat: sunnatullah tidak hanya tentang alam fisik. Al-Qur'an juga menyebut “kebiasaan Allah” yang berlaku pada kehidupan manusia dan masyarakat:
Ini adalah sunnatullah sosial: perubahan nasib suatu bangsa mengikuti hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan — tidak ada perubahan tanpa usaha, tidak ada kemajuan tanpa perbaikan diri. Seperti halnya di alam, di masyarakat pun Allah menjalankan aturan yang konsisten dan bisa dipelajari. Orang beriman yang memahami sunnatullah tidak akan berpangku tangan menunggu mukjizat — ia bekerja di dalam hukum sebab-akibat, karena itulah cara Allah menjalankan dunia (lihat Hidup di Dunia: ikhtiar dan tawakal).
Akal yang jujur berakhir pada iman
Maka anak tangga ini menutup dengan satu kesimpulan yang menjadi ciri khas seri ini: iman yang benar tidak bertentangan dengan akal dan hukum alam — justru keduanya bertemu. Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia berpikir tentang alam:
Allah menyebut alam sebagai ayat li ulil albab — bagi orang-orang yang berakal. Artinya: memakai akal untuk meneliti alam bukan langkah menjauh dari Allah, melainkan langkah mendekat — selama akal itu jujur dan tidak dibelokkan kepentingan. Akal yang jujur membaca keteraturan, lalu bertanya: siapa yang mengatur? Akal yang jujur membaca hukum, lalu bertanya: siapa yang menetapkan? Dan ketika akal sampai pada Allah, ia tidak berhenti di sana dengan sombong — ia tunduk, karena ia tahu: di balik hukum-hukum yang terbaca, ada Dzat yang tidak bisa dijangkau penglihatan tetapi nyata dalam keteraturan ciptaan-Nya.
Dari langit yang beredar menurut perhitungan, kita melangkah ke anak tangga berikutnya: dari alam yang agung, menuju manusia — makhluk kecil yang justru menjadi pusat perhatian Pencipta alam. Siapakah manusia pertama? Apa fitrahnya? Dan mengapa dari semua ciptaan, hanya manusia yang diciptakan “dengan tangan-Nya” dan ditiupkan ruh?