Setiap yang ada pasti ada sebabnya. Tetapi rantai sebab tidak mungkin berjalan mundur tanpa ujung — pasti ada Satu yang menjadi awal segalanya, yang tidak disebabkan oleh apa pun. Mengenal-Nya dengan benar adalah fondasi: jika tauhid tidak sejalan dengan Al-Qur'an, berarti ada kesalahan dalam mengenal Allah — dan semua yang dibangun di atasnya ikut miring.
Mulai dari pertanyaan yang paling jujur
Setiap manusia — apa pun latar belakangnya — pernah berhenti sejenak dan bertanya: dari mana semuanya ini berasal? Apa yang ada sebelum segala sesuatu ada? Mengapa ada sesuatu, dan bukannya tidak ada apa-apa? Pertanyaan ini bukan pertanyaan agama semata; ia pertanyaan akal yang paling mendasar. Para filsuf menyebutnya pertanyaan tentang prima causa — sebab pertama. Dan akal sendiri, bila dipakai jujur, sampai pada kesimpulan yang sama dengan Al-Qur'an: pasti ada yang awal, yang tidak disebabkan oleh apa pun.
Coba pikirkan: setiap akibat pasti punya sebab. Sebab itu sendiri pasti punya sebab lagi. Tetapi kalau rantai ini berjalan mundur terus tanpa ujung, maka tidak akan pernah ada apa pun — sebab untuk memulai rantai, harus ada sebab pertama yang tidak membutuhkan sebab lain. Rantai sebab-akibat hanya mungkin ada jika ada Satu yang memutus rantai itu dari atas: Yang Awal, yang keberadaan-Nya tidak bergantung pada apa pun. Inilah yang Al-Qur'an kabarkan tentang Allah:
Al-Awwal — Yang Awal. Bukan sekadar “pertama dalam urutan”, tetapi yang ada sebelum segala sesuatu dan yang menjadi pangkal keberadaan segala sesuatu. Tidak ada “sebelum” Allah, karena waktu sendiri adalah ciptaan-Nya. Allah tidak berada di dalam rantai sebab-akibat; Dialah yang menciptakan rantai itu.
Al-Ikhlas: jawaban paling ringkas atas pertanyaan terbesar
Ketika manusia bertanya-tanya tentang Tuhan, Allah menurunkan jawaban dalam satu surat yang sangat pendek — namun oleh para ulama disebut sepertiga Al-Qur'an karena merangkum inti tauhid:
Empat ayat ini menjawab pertanyaan “apa itu Allah?” dengan ketepatan yang tidak bisa ditandingi akal mana pun. Dan perhatikan: keempatnya berbicara tentang hubungan Allah dengan sebab:
- “Dialah Allah, Yang Maha Esa” — Ahad: esa dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada yang menyusun-Nya, karena Dia tidak tersusun. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mencipta dan mengurus.
- “Allah tempat meminta segala sesuatu” — ash-Shamad: tujuan segala permintaan, sandaran segala kebutuhan. Inilah inti “prima causa” dalam bahasa Al-Qur'an: semua makhluk bergantung kepada Allah; Allah tidak bergantung kepada siapa pun. Tidak ada satu makhluk pun yang tidak butuh kepada-Nya — dari malaikat sampai batu, dari atom sampai galaksi.
- “Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan” — lam yalid wa lam yulad: tidak ada yang lahir dari-Nya (menyangkal anggapan bahwa Isa atau malaikat adalah “anak Tuhan”), dan Dia sendiri tidak lahir dari apa pun (menyangkal anggapan bahwa Tuhan punya asal-usul). Allah bebas dari sebab yang menghasilkan-Nya — Dia tidak diperanakkan, tidak diciptakan, tidak muncul dari proses apa pun.
- “Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia” — wa lam yakun lahu kufuwan ahad: tidak ada yang sebanding, tidak ada yang menyerupai. Karena itu Allah tidak bisa dibayangkan dengan ukuran apa pun yang kita kenal — sebab semua ukuran berasal dari alam ciptaan, dan Dia bukan bagian dari alam ciptaan.
Al-Ikhlas adalah jawaban final atas teka-teki prima causa: sebab pertama itu tidak mungkin mirip dengan akibat-akibat-Nya. Ia haruslah Satu, tempat bergantung segala, bebas dari asal-usul, dan tanpa tandingan. Inilah Allah — bukan “sesuatu yang besar” di antara benda-benda besar, tetapi Dzat yang sama sekali berbeda dari segala yang ada, yang justru karena itu mampu menciptakan segala yang ada.
Allah tidak serupa dengan apa pun — dua kesalahan yang harus dijauhi
Karena Allah berbeda dari segala ciptaan, mengenal-Nya menuntut kehati-hatian. Al-Qur'an menegaskan:
Ayat ini menjaga kita dari dua jurang kesalahan dalam mengenal Allah:
- Jurang pertama: menyamakan Allah dengan makhluk (tasybih) — membayangkan Allah seperti manusia yang lebih hebat: bertangan seperti tangan kita, marah seperti marah kita, duduk di “tahta” seperti raja dunia. Al-Qur'an menegur cara berpikir ini: “Maka janganlah kamu mengadakan perumpamaan-perumpamaan bagi Allah” (QS An-Nahl 16:74).
- Jurang kedua: menolak sifat-sifat Allah (ta'thil) — karena takut menyamakan, lalu mengosongkan Allah dari sifat-sifat-Nya: berkata Allah tidak mendengar, tidak melihat, tidak berkuasa. Padahal Al-Qur'an menetapkan sifat-sifat itu — tetapi dengan kunci: laysa kamitslihi syai'. Allah mendengar, tetapi tidak seperti pendengaran kita; Allah melihat, tetapi tidak seperti penglihatan kita.
Jalan yang lurus berada di tengah: tetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, tanpa menanyakan “bagaimana” dan tanpa menyerupakan dengan makhluk. Inilah adab akal di hadapan Yang Maha Mengetahui: akal sampai pada kesimpulan bahwa Allah ada dan Esa, lalu akal berhenti di batasnya — karena Dia yang menciptakan akal lebih tahu tentang diri-Nya daripada akal itu sendiri. Allah juga berfirman:
Bukan yang memulai lalu pergi: al-Hayyul Qayyum
Ada satu kesalahpahaman tentang “sebab pertama” yang harus diluruskan: membayangkan Allah seperti arloji yang diputar lalu dibiarkan berjalan sendiri — atau seperti “Big Bang” yang memulai alam lalu tidak lagi peduli. Al-Qur'an menolak gambaran ini. Allah bukan hanya al-Awwal yang memulai; Dia juga al-Qayyum yang terus mengurus setiap saat:
Al-Qayyum — Yang menegakkan dan menopang segala sesuatu, terus-menerus, tanpa henti, tanpa lelah. Alam semesta tidak berjalan dengan “energi sisa” dari awal penciptaan; ia ditopang oleh Allah setiap saat. Jika Allah “mengantuk” sekejap — sesuatu yang mustahil bagi-Nya — seluruh alam akan runtuh. Maka sunnatullah (hukum alam) yang kita amati — gravitasi, pergantian siang-malam, keteraturan langit — bukanlah alam yang berjalan sendiri: ia adalah cara Allah yang al-Qayyum terus mengurus ciptaan-Nya. Hukum alam adalah “kebiasaan” Allah yang tetap dan dapat dipelajari — dan itulah sebabnya sains mungkin ada: karena alam ini dijalankan oleh Satu yang tidak berubah-ubah.
Mengapa ini harus menjadi anak tangga pertama
Sekarang kita mengerti mengapa seri ini dimulai dari Allah — bukan dari manusia, bukan dari kehidupan, bukan dari aturan-aturan. Karena setiap pemahaman lain bergantung pada jawaban pertanyaan ini:
- Jika salah mengenal Allah, salah pula memahami manusia — sebab manusia adalah ciptaan-Nya; hakikat manusia hanya jelas jika Penciptanya dikenal.
- Jika salah mengenal Allah, salah pula memahami alam — alam hanya bisa dibaca benar sebagai sunnatullah, bukan sebagai tuhan kedua, bukan pula sebagai mesin tanpa Pencipta.
- Jika salah mengenal Allah, salah pula memahami hidup dan tujuan — tujuan hidup hanya masuk akal jika Sang Pencipta yang menetapkannya dikenal.
- Jika salah mengenal Allah, wahyu dan rasul pun bisa disalahpahami — sebab Al-Qur'an dan hadits adalah kabar dari Allah tentang Allah.
Karena itu pula Al-Qur'an menempatkan pengenalan akan Allah di awal segalanya, dan pertanyaan yang paling pertama dijawab langit adalah pertanyaan tentang Rabb. Bahkan Al-Fatihah — surat yang kita baca setiap hari — memulai dialog dengan menyebut siapa yang kita hadapi: alhamdulillahi rabbil 'alamin, pujian kepada Allah, Tuhan seluruh alam (lihat kupasan Al-Fatihah: Protokol Hubungan). Mengenal Allah adalah pintu; semua yang lain adalah isi rumah.
Dari sini, jalan ke depan
Allah dikenal melalui dua hal yang tidak bertentangan: firman-Nya (Al-Qur'an — kabar tentang diri-Nya) dan ciptaan-Nya (alam semesta — bukti sifat-sifat-Nya yang bekerja). Keduanya berasal dari Dzat yang sama, maka keduanya tidak mungkin bertentangan. Barangsiapa membaca keduanya dengan hati yang bersih dari kepentingan, ia akan sampai pada kesimpulan yang sama dari dua arah: ada Allah, Esa, tempat bergantung segala, Awal dari segalanya.
Pada anak tangga berikutnya, kita akan menapaki tujuan-Nya: untuk apa Allah menciptakan — langit, bumi, dan manusia di antara keduanya? Karena jika Allah adalah awal segalanya, maka tujuan penciptaan adalah arah segalanya — dan manusia yang tahu awal dan arah, tidak akan tersesat di tengah jalan.