Petunjuk sudah utuh: kita tahu Pencipta, tujuan penciptaan, hakikat manusia, dan sumber petunjuknya. Sekarang tibalah bagian yang paling praktis — bagaimana menjalani hari-hari di dunia ini dengan benar? Karena iman tidak diuji di awang-awang, tetapi di tengah kehidupan yang nyata: kerja, keluarga, sakit, bahagia, gagal, dan sukses.
Hidup adalah ujian yang berlangsung setiap hari
Pada anak tangga kedua kita melihat bahwa Allah menciptakan hidup dan mati untuk menguji — siapa yang terbaik amalnya. Sekarang kita bedah bagaimana ujian itu berlangsung dalam keseharian:
Perhatikan: ujian itu mencakup keburukan dan kebaikan. Kita terbiasa menganggap ujian hanya berupa kesulitan — sakit, rugi, kehilangan. Padahal kebaikan juga ujian: ketika diberi harta, apakah kita bersyukur atau lupa? Ketika diberi kekuasaan, apakah kita adil atau zalim? Ketika sehat, apakah kita beribadah atau lalai? Banyak orang selamat dari ujian kesulitan tetapi gagal dalam ujian kelimpahan — karena kelimpahan menguji kesyukuran, dan kesyukuran adalah ujian yang paling jarang lulus.
Peralatan menghadapi ujian: sabar dan salat
Allah tidak membiarkan kita menghadapi ujian tanpa peralatan. Dua peralatan yang Dia tunjuk langsung adalah sabar dan salat:
Ista'inu bis-sabri was-salah — mintalah pertolongan dengan sabar dan salat. Perhatikan bahwa Allah menyebut keduanya sebagai sarana meminta tolong: ketika ujian datang, manusia butuh pertolongan, dan jalannya adalah sabar (menahan diri dan bertahan di atas ketaatan) serta salat (menghubungkan diri kepada Allah). Salat adalah pengingat berkala lima kali sehari bahwa ada yang lebih besar dari masalah kita; sabar adalah otot yang menahan kita agar tidak roboh di antara pengingat-pengingat itu. Allah menegaskan bahwa ujian itu terukur — dan kabar gembira menanti yang sabar:
Ayat ini memuat dua kata yang sering terlewat: bisya'i — dengan sedikit. Allah menyebut ujian dunia sebagai “sesuatu yang sedikit” — bukan karena tidak terasa berat, tetapi karena dibandingkan dengan balasan akhirat, semua ujian dunia memang sedikit. Dan ayat ini ditutup dengan basyiris-shabirin — sampaikan kabar gembira kepada orang-orang sabar — kabar gembira di tengah ayat tentang ujian, karena kesabaran mengubah ujian menjadi ladang pahala.
Ikhtiar dan tawakal: berjalan di atas sunnatullah
Hidup di dunia juga berarti hidup di dalam hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan — sunnatullah, sebagaimana kita bahas pada anak tangga ketiga. Orang beriman tidak memutus hukum sebab-akibat itu; ia bekerja di dalamnya sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah:
Jalan keluar (makhraj) dan rezeki dari arah yang tak disangka (min haitsu la yahtasib) adalah janji bagi yang bertakwa — tetapi ingat: bertakwa adalah ikhtiar batin yang nyata, bukan pasrah kosong. Takwa berarti menjaga diri di atas perintah Allah sambil tetap bekerja di dunia; tawakal berarti setelah ikhtiar maksimal, hati bersandar penuh kepada Allah. Keduanya berjalan bersama — sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan ketika seorang sahabat bertanya apakah ia harus mengikat untanya lalu bertawakal, atau melepaskannya begitu saja:
Orang beriman bekerja keras di dalam sunnatullah — karena itulah cara Allah menjalankan dunia — tetapi hatinya tidak diperbudak hasil, karena hasil sepenuhnya di tangan Allah.
Ketika selesai satu urusan, lanjutkan
Ada satu lagi kunci menjalani hidup di dunia yang sering dilupakan — ritme kerja orang beriman. Allah mengajarkannya dalam Al-Insyirah, surat yang telah kita kupas di halaman suratnya:
Faidza faraghta fanshab — bila satu urusan selesai, bersungguh-sungguhlah pada urusan berikutnya. Ini rumus melawan kelelahan dan stagnasi: hidup orang beriman adalah rangkaian kesungguhan, bukan jeda yang tak berujung. Dan penutupnya: wa ila rabbika farghab — hanya kepada Tuhanmu arahkan harapan. Bekerja keras + berharap hanya kepada Allah = hidup yang tidak pernah putus asa dan tidak pernah sombong. Keduanya diikat dalam satu ayat.
Hidup yang baik di dunia, karena iman
Apakah semua ini berarti hidup orang beriman di dunia harus sengsara? Tidak — justru sebaliknya. Al-Qur'an menjanjikan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) di dunia bagi yang beramal saleh dengan iman — sebagaimana telah kita lihat di tulisan lain. Yang berubah bukan kenyamanan dunianya, melainkan cara memaknai dunianya: orang beriman bisa bahagia dalam kesederhanaan dan tetap tenang dalam ujian, karena kebahagiaannya tidak bergantung pada keadaan dunia yang berubah-ubah. Ia berjalan di dunia sebagai musafir — memakai dunia, menikmati yang halal, tetapi tidak pernah menjadikan dunia tujuannya; ia bekerja, tetapi hatinya di akhirat; ia diuji, tetapi ia tahu ujian itu terukur dan ada ganjarannya.
Ringkasnya, hidup di dunia dijalani dengan tiga pegangan: sabar dan salat menghadapi ujian, ikhtiar dan tawakal di atas sunnatullah, dan kesungguhan yang terus-menerus dengan harapan hanya kepada Allah. Inilah cara berjalan yang tidak akan tersesat — dan pada anak tangga terakhir, kita akan melihat ke mana semua jalan ini bermuara: anak tangga kesembilan, Kembali kepada Allah.
Pendatang baru di dunia: jangan membandingkan jalan
Satu lagi kunci menjalani hidup di dunia yang sering merusak hati: membandingkan progres hidup kita dengan progres orang lain. Tidak ada satu pun dari kita yang pernah ke dunia ini sebelumnya — setiap manusia adalah pendatang baru yang berangkat dari titik berbeda, dengan kemampuan dan ujian berbeda. Allah mengingatkan bahwa usaha manusia memang beraneka:
Liyabluwakum fi ma atakum — untuk menguji kalian dalam apa yang Dia berikan. Ukuran ujian bukan “apa yang dimiliki orang lain”, tetapi apa yang diberikan kepadamu. Maka perbandingan yang sehat hanyalah satu: diriku hari ini melawan diriku kemarin, di atas titipan yang Allah berikan kepadaku — bukan babak pertamaku melawan babak ketiga orang lain.