← Topik
Iman & Akal · 3 dari 5

Satu Hukum untuk Semua: Bukti Satu Pencipta

Keseragaman sunnatullah — bukti logis yang paling kuat tentang keesaan Allah

Hukum alam tidak pernah pandang bulu: gravitasi menarik batu dan burung yang sama, air mendidih pada suhu yang sama untuk semua manusia, matahari terbit untuk yang beriman maupun yang ingkar. Keseragaman yang total ini — yang menjadi asas semua ilmu pengetahuan — adalah salah satu bukti paling rasional bahwa alam ini diatur oleh Satu Pencipta.

Fakta yang jarang direnungkan: hukum alam itu sama untuk semua

Coba renungkan satu fakta sederhana yang sering kita lewatkan. Hukum-hukum alam berlaku sama bagi seluruh makhluk, tanpa kecuali dan tanpa pandang bulu: api membakar kulit manusia biasa sama seperti kulit nabi; gravitasi menjatuhkan apel dari pohon orang saleh maupun orang zalim; air memberi kehidupan kepada tanaman di kebun orang beriman dan orang kafir. Tidak ada “hukum istimewa” bagi yang beriman, dan tidak ada “hukum yang dikecualikan” bagi yang ingkar. Bahkan hukum-hukum moral dan sosial yang Allah tetapkan — seperti sunnatullah bahwa suatu kaum tidak berubah sebelum mengubah diri mereka sendiri (QS Ar-Ra'd 13:11) — berlaku merata bagi siapa pun.

Mengapa ini penting? Karena ilmu pengetahuan modern berdiri di atas asumsi ini: para ilmuwan mengasumsikan bahwa hukum fisika yang berlaku di laboratorium Jakarta juga berlaku di Mars dan di galaksi yang jauh — jika tidak, tidak ada gunanya melakukan eksperimen. Dan asumsi itu terbukti benar setiap hari: roket yang dihitung dengan hukum yang sama berhasil mendarat di bulan; obat yang diuji dengan metode yang sama bekerja di seluruh dunia. Alam ini seragam dalam hukumnya — dan keseragaman itulah yang ingin kita renungkan.

Argumen Al-Qur'an: satu hukum yang konsisten → satu Penetap

Al-Qur'an tidak hanya menceritakan keteraturan alam — ia menarik kesimpulan teologis dari keteraturan itu. Karena hukum alam seragam dan konsisten, maka mustahil alam ini diatur oleh banyak pengatur:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah yang memiliki Arasy, dari apa yang mereka sifatkan.”
QS Al-Anbiya' 21:22
مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya. (Sekiranya tuhan banyak), maka masing-masing tuhan itu akan membawa apa yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan.”
QS Al-Mu'minun 23:91

Ini adalah argumen filosofis yang jernih, dan bisa diuraikan langkah demi langkah dengan akal:

  1. Jika alam diatur oleh lebih dari satu pengatur yang benar-benar berkuasa, maka kehendak mereka bisa berbeda — dan ketika dua kehendak berbeda bentrok, salah satu harus mengalah: maka yang kalah bukan lagi penguasa penuh.
  2. Akibatnya, alam akan kacau: hari ini matahari terbit karena kehendak tuhan A, besok bisa tidak terbit karena kehendak tuhan B. Tidak akan ada hukum yang konsisten, tidak akan ada sains, tidak akan ada keteraturan yang bisa dipelajari.
  3. Faktanya: alam ini teratur dan konsisten — hukumnya sama kemarin, hari ini, dan besok; sama untuk semua makhluk. Maka pengaturnya haruslah Satu.

Kesimpulannya mengikuti premisnya: keseragaman hukum = bukti kesatuan Pengatur. Inilah burhan tauhid yang bisa dijelaskan kepada siapa pun — ilmuwan, filsuf, atau orang awam — tanpa perlu iman lebih dulu. Akal yang jujur, ketika melihat satu hukum bekerja untuk semua, sampai sendiri pada kesimpulan: satu Penetap.

Sunnatullah: hukum yang tidak pernah berubah

Al-Qur'an menyebut hukum-hukum Allah yang konsisten ini dengan nama sunnatullah — dan menegaskan berulang kali bahwa ia tidak berubah:

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
“(Demikianlah) sunnah Allah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.”
QS Al-Ahzab 33:62
سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
“(Demikianlah) hukum Allah yang telah berlaku sejak dahulu; kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah.”
QS Al-Fath 48:23

Lan tajida lisunnatillahi tabdila — engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah. Kata lan dalam bahasa Arab adalah penafian yang paling kuat dan permanen. Allah menyatakan: hukum-hukum-Ku tidak akan berubah — dan fakta ini bisa diverifikasi oleh siapa pun: tidak ada seorang pun sepanjang sejarah yang berhasil menemukan satu hari di mana gravitasi berhenti bekerja, atau siang tidak mengikuti malam, atau air tiba-tiba membeku pada suhu ruangan. Konsistensi total ini adalah tanda tangan Pencipta pada ciptaan-Nya.

Sains: saksi yang tidak sadar

Di sinilah letak keindahan argumen ini: sains modern, tanpa disadarinya, adalah saksi tauhid. Setiap ilmuwan yang melakukan eksperimen — mengasumsikan hukum alam konsisten dan berlaku universal — sedang membuktikan sunnatullah, meskipun ia mungkin tidak menyadari implikasinya. Albert Einstein pernah berkata bahwa hal yang paling tidak bisa dipahami tentang alam semesta adalah bahwa ia bisa dipahami — keteraturan yang membuat alam ini dapat dimengerti adalah sesuatu yang tidak seharusnya ada jika alam adalah kebetulan. Al-Qur'an sudah menyatakan ini empat belas abad lebih dulu: alam ini li ulil albab — penuh tanda bagi orang berakal (QS 3:190, 2:164). Ilmuwan yang jujur membaca keteraturan, lalu — jika ia menelusuri sampai ujung — akan bertemu pertanyaan yang sama: siapa yang menetapkan hukum yang tidak pernah berubah ini?

Maka argumen Anda — “pembuktian Allah dengan hukum alam yang sama bagi seluruh makhluk di dunia ini” — bukan sekadar benar secara agama; ia adalah salah satu argumen keberadaan Allah yang paling kuat secara rasional dan paling sesuai dengan metode ilmiah. Ia tidak meminta Anda menutup mata; ia meminta Anda membuka mata lebar-lebar pada fakta yang paling universal: satu hukum untuk semua, maka satu Penetap untuk semua. Dan dari bukti ini, langkah berikutnya adalah pertanyaan yang sama yang diajukan Al-Qur'an kepada ulul albab: jika alam ini dari Satu Pencipta, lalu bagaimana seharusnya aku hidup di dalamnya?

Iman & Akal. Tulisan 1: Iman yang Menggunakan Akal · 2: Taqwa: Kepatuhan yang Sadar. Tulisan ini: Satu Hukum untuk Semua. Berikutnya: Mengapa Akal Saja Tidak Cukup — batas akal yang justru harus diakui akal sehat. Satu arah: ihdinas shiratal mustaqim.