Pada anak tangga kelima kita melihat betapa rumitnya manusia: bertingkat, berperang dalam jiwa, dan mudah dibelokkan kepentingan. Makhluk serumit ini tidak mungkin dibiarkan berjalan tanpa peta. Maka Allah menurunkan petunjuk — lewat rasul dan nabi yang juga manusia, dan lewat kitab-kitab yang terjaga.
Manusia butuh petunjuk sejak awal
Sejak manusia pertama turun ke bumi, Allah sudah memasang aturan mainnya: manusia akan mendapat petunjuk, dan keselamatannya tergantung pada mengikuti petunjuk itu:
Perhatikan: Allah tidak berkata “manusia akan baik dengan sendirinya”. Sejak awal, Allah menyatakan bahwa manusia butuh petunjuk dari luar dirinya — karena akal manusia, sebagaimana kita lihat, bisa dibelokkan kepentingan, dan perasaannya bisa keruh. Petunjuk itu datang dari Allah — karena hanya Pencipta manusia yang tahu persis apa yang baik bagi manusia.
Setiap umat mendapat rasul
Allah tidak pernah membiarkan satu pun umat tanpa peringatan. Ini adalah sunnatullah dalam sejarah manusia:
Perhatikan inti seruan semua rasul — satu dan sama sepanjang sejarah: sembahlah Allah dan jauhilah tagut (segala yang disembah selain Allah). Dari Nuh sampai Muhammad, pesan inti tidak berubah: tauhid. Ini menegaskan apa yang kita bahas di anak tangga pertama: tauhid adalah fondasi, dan setiap perbaikan manusia selalu dimulai dari meluruskan pengenalan kepada Allah.
Allah juga menjelaskan mengapa manusia (yang tadinya satu umat, lalu berselisih) diutus para nabi:
Nabi diutus mubasysyirin (pembawa kabar gembira) dan mundzirin (pemberi peringatan) — dan bersama mereka diturunkan kitab untuk memutuskan perselisihan manusia. Manusia berselisih bukan karena kurang informasi, tetapi karena hati dan kepentingan; kitab suci hadir sebagai hakim yang tidak berpihak — kebenaran dari Allah yang mengatasi selera manusia.
Rasul dan nabi: manusia, bukan makhluk lain
Di sinilah poin yang Anda minta ditegaskan: rasul dan nabi adalah manusia — bukan malaikat, bukan makhluk setengah dewa. Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk menyatakan kemanusiaannya dengan terus terang:
Innama ana basyarun mitslukum — aku hanyalah manusia biasa seperti kalian. Inilah kalimat yang menjaga umat dari dua kesalahan besar: menuhankan rasul (mengangkatnya ke derajat ilahi) dan merendahkan rasul (mengingkari wahyunya). Rasul adalah manusia — makan, minum, berkeluarga, sakit, dan mati seperti manusia — tetapi manusia yang diberi wahyu (yuha ilayya). Perbedaannya dengan kita bukan pada kemanusiaannya, tetapi pada wahyu yang Allah khususkan kepadanya. Karena itulah ia bisa dicontoh: kita tidak bisa meniru malaikat, tetapi kita bisa meniru manusia — dan itulah hikmah rasul berupa manusia: agar teladannya mungkin diikuti.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri menegaskan bahwa para nabi adalah bersaudara — dari satu asal, dengan syariat yang berbeda-beda:
Satu agama (din) — intinya tauhid dan kepasrahan kepada Allah — tetapi syariat (aturan amal) berbeda sesuai masa dan umat. Ini menjelaskan mengapa kita beriman kepada semua nabi tanpa membeda-bedakan: mereka semua diutus Allah dengan pesan inti yang sama.
Kitab-kitab: dari yang pertama sampai Al-Qur'an
Bersama para rasul, Allah menurunkan kitab-kitab. Seorang muslim wajib beriman kepada semuanya — Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur'an — tanpa merendahkan satu pun:
Dan kedudukan Al-Qur'an di antara kitab-kitab itu dijelaskan dengan tegas:
Mushaddiq — membenarkan kitab sebelumnya; muhaymin — penjaga dan saksi yang mengawasi. Al-Qur'an adalah kitab penutup yang membenarkan inti kitab-kitab sebelumnya (tauhid dan akhlak) sekaligus menjadi hakim terakhir atas apa yang diperselisihkan manusia tentang kitab-kitab itu. Karena itu, beriman kepada kitab-kitab sebelumnya berarti beriman kepada apa yang asli darinya — yang terjaga dan dibenarkan Al-Qur'an — bukan kepada versi yang telah diubah tangan manusia.
Rahmat bagi seluruh alam
Mengapa semua ini penting bagi kita hari ini? Karena rasul terakhir diutus bukan untuk satu bangsa atau satu zaman:
Kenabian yang berakhir pada Muhammad ﷺ adalah puncak dari rantai petunjuk yang membentang sepanjang sejarah — dan Al-Qur'an yang dibawanya adalah petunjuk yang masih utuh sampai hari ini. Maka anak tangga keenam ini menutup dengan satu kesimpulan: petunjuk itu ada, nyata, dan masih bisa dipegang. Manusia tidak punya alasan untuk berjalan dalam kegelapan — Allah telah mengutus manusia-manusia pilihan dengan kitab yang terjaga. Pertanyaannya bukan lagi “apakah ada petunjuk?”, tetapi “apakah kita mau mengambilnya dan mengikutinya?”