Salah satu kesalahpahaman terbesar: beriman dianggap berarti menolak akal dan menutup mata pada alam. Padahal Al-Qur'an justru menggandeng keduanya — wahyu yang dibaca, alam yang diteliti — karena keduanya berasal dari Pencipta yang sama.
Dua ayat yang tidak bertentangan
Ada dua jenis “ayat” — dua tanda yang Allah bentangkan. Pertama, ayat yang dibaca: Al-Qur'an. Kedua, ayat yang diamati: alam semesta beserta hukum-hukumnya. Al-Qur'an menyebut orang yang beriman dengan benar sebagai orang yang memadukan keduanya:
Ayat ini lalu disambung langsung dengan ciri ulul albab — orang berakal yang beriman: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.'” (QS Ali 'Imran 3:191). Perhatikan urutannya: mengingat Allah dan memikirkan ciptaan ada dalam satu napas. Beriman yang benar tidak memisahkan antara hati yang berdzikir dan akal yang meneliti.
Bahkan Allah berjanji bahwa tanda-tanda-Nya akan tampak di dua tempat itu — di ufuk (alam) dan di diri manusia sendiri:
Karena itu, mempelajari fisika, biologi, teknik, atau kedokteran — membaca “hukum alam” — bukanlah kegiatan yang jauh dari iman. Ia adalah membaca ayat Allah yang kedua. Ilmu pengetahuan, pada hakikatnya, adalah upaya membaca sunnatullah: pola-pola tetap yang Allah tetapkan di alam. Semakin dalam kita membacanya, semakin besar tanda yang kita saksikan. Masalahnya bukan pada ilmu; masalahnya pada hati yang membaca tanpa mengingat siapa Penulisnya.
Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar
Di sinilah iman yang benar diuji. Sebagian orang memahami tawakal sebagai pasrah total — berdoa lalu diam, menunggu mukjizat. Padahal Allah menegaskan bahwa perubahan tidak turun begitu saja; ada hukum sebab-akibat yang harus dijalani:
Rasulullah ﷺ mengajarkan hal yang sama dalam satu gambaran yang sangat hidup. Seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah saya ikat untaku lalu bertawakal, atau lepas saja lalu bertawakal?” Beliau menjawab:
Hadits ini adalah rumus iman dan hukum alam dalam satu kalimat. Unta yang tidak diikat akan hilang — itu sunnatullah, dan tidak ada doa yang menggantikan tali kekang. Tapi setelah tali itu diikat sekencang-kencangnya, masih ada lapisan hasil yang tidak bisa dijamin oleh tali: di situlah tawakal masuk. Ikhtiar adalah menjalankan hukum alam; tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Pemilik hukum. Iman yang benar memegang keduanya, tidak mencampurnya, tidak meninggalkan salah satunya.
Rezeki, doa, dan kepastian yang di luar hitungan
Ketika ikhtiar sudah dijalankan sebaik-baiknya sesuai sunnatullah, Allah membuka pintu yang tidak bisa dihitung oleh kalkulator manusia:
Perhatikan penutup ayat itu: “Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” Ini adalah pengakuan Al-Qur'an atas keteraturan — yang dalam bahasa ilmu disebut hukum alam. Iman tidak menabrak keteraturan; iman justru percaya bahwa di balik keteraturan itu ada yang Mengatur, dan bahwa Dialah yang memegang hasil akhir. Orang beriman bekerja di dalam hukum sebab-akibat, tapi tidak diperbudak olehnya: ia tahu ada Dzat yang kuasa-Nya melampaui sebab yang ia jalani.
Iman yang benar, hidup yang tenang
Ringkasnya, cara beriman yang baik dan benar menurut tuntunan adalah:
- Percaya wahyu, tidak menolak akal. Al-Qur'an diturunkan untuk direnungkan, bukan untuk ditinggalkan akal di pintunya.
- Membaca alam sebagai ayat. Hukum alam adalah sunnatullah; mempelajarinya adalah ibadah bila diniatkan untuk mengenal kebesaran-Nya.
- Ikhtiar penuh, tawakal penuh. Kerjakan sebab selaras sunnatullah (ikat untanya), lalu serahkan hasil kepada Allah (bertawakal).
- Doa bukan pengganti usaha, melainkan penyempurnanya. Doa adalah ikhtiar hati yang menjangkau bagian yang tidak bisa dijangkau tangan.
Iman seperti ini yang membuat seseorang tidak mudah goyah: ia tidak menyembah alam (seperti yang dilakukan sains tanpa Tuhan), dan tidak pula mengabaikan alam (seperti yang dilakukan takhayul tanpa ilmu). Ia berdiri di tengah — hamba yang berakal, di hadapan Rabb yang Maha Mengatur. Dari poros inilah semua topik lain di Satu Sumbu berangkat.