Pada anak tangga keenam kita sampai pada kesimpulan: petunjuk itu ada — dibawa rasul, tertulis dalam kitab. Sekarang pertanyaannya: bagaimana petunjuk itu sampai kepada kita hari ini? Jawabannya melalui dua sumber yang saling melengkapi: Al-Qur'an dan hadits. Memahami fungsi keduanya adalah kunci agar tidak tersesat di antara keduanya.
Al-Qur'an: petunjuk yang menjaga dirinya sendiri
Al-Qur'an memperkenalkan dirinya dengan tiga fungsi yang saling menguatkan — hudan (petunjuk), bayan (penjelasan), dan furqan (pembeda):
Hudan — ia menunjukkan arah; bayyinat — ia menjelaskan maksudnya, tidak membiarkan kita menebak; furqan — ia memisahkan yang benar dari yang batil. Dan cakupan penjelasannya disebut Al-Qur'an seluas-luasnya:
Tibyanan likulli syai' — penjelasan untuk segala sesuatu. Bukan berarti Al-Qur'an memuat detail segala hal (cara membuat pesawat, misalnya) — tetapi ia menjelaskan segala yang perlu diketahui manusia untuk selamat: siapa Pencipta, apa tujuan hidup, mana yang benar dan batil, bagaimana bersikap dalam setiap urusan inti kehidupan. Al-Qur'an adalah peta; ia memuat semua yang perlu kita ketahui untuk sampai ke tujuan.
Hadits: penjelas yang dijamin oleh wahyu
Jika Al-Qur'an sudah menjelaskan segala sesuatu, mengapa masih perlu hadits? Jawabannya justru ada di dalam Al-Qur'an sendiri. Allah menugaskan Rasulullah ﷺ untuk menjelaskan apa yang diturunkan:
Litubayyina lin-nasi ma nuzzila ilaihim — agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka. Di sinilah fungsi hadits: Al-Qur'an memerintahkan salat — hadits menjelaskan cara, waktu, dan syaratnya. Al-Qur'an menyebut zakat — hadits menjelaskan nisab dan ukurannya. Al-Qur'an memerintahkan haji — hadits memperagakan manasiknya. Tanpa hadits, perintah-perintah Al-Qur'an yang agung akan menggantung tanpa penjelasan operasional. Hadits bukan sumber kedua yang terpisah dari Al-Qur'an; ia adalah penjelas yang ditunjuk langsung oleh Al-Qur'an.
Karena itu, memisahkan Al-Qur'an dari hadits — mengaku hanya berpegang pada Al-Qur'an dan menolak hadits — sebenarnya bertentangan dengan Al-Qur'an itu sendiri: ayat di atas menugaskan Nabi menjelaskan wahyu, dan menolak penjelasannya berarti menolak mekanisme yang Allah tetapkan. Sebaliknya, berpegang hanya pada hadits tanpa memahami Al-Qur'an juga menyimpang — karena hadits ada untuk menjelaskan Al-Qur'an, bukan menggantikannya.
Dua pusaka yang tidak terpisah
Rasulullah ﷺ meninggalkan dua pusaka yang harus dipegang bersama — dan beliau menjamin siapa yang berpegang pada keduanya tidak akan tersesat:
Rasulullah ﷺ tidak berkata “pegang Al-Qur'an saja” — beliau menggandeng keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Dua pusaka ini seperti dua sayap: Al-Qur'an adalah wahyu yang terjaga lafaznya, hadits adalah penjelasan yang terjaga maknanya melalui periwayatan yang ketat. Orang yang memegang keduanya dengan benar — menjadikan Al-Qur'an hakim utama dan hadits penjelasnya — berada di jalan yang tidak tersesat. Orang yang memegang satu dan membuang yang lain, pincang — dan pincang dalam beragama ujungnya tersesat, sebagaimana yang beliau peringatkan.
Bagaimana keduanya bekerja hari ini
Setelah memahami fungsi keduanya, mari kita lihat bagaimana Al-Qur'an dan hadits bekerja dalam kehidupan sehari-hari:
- Al-Qur'an adalah hakim. Ketika ada perselisihan — tentang akidah, tentang hukum, tentang sikap — kembalikan kepada Al-Qur'an lebih dulu. Ia adalah furqan: pembeda yang jernih.
- Hadits adalah penjelas dan peraga. Ketika Al-Qur'an memerintahkan sesuatu secara umum, carikan penjelasannya di hadits — bagaimana Rasulullah ﷺ melakukannya. Ibadah kita berpijak pada contoh beliau.
- Keduanya saling menguji. Pemahaman Al-Qur'an yang benar tidak akan bertentangan dengan hadits sahih, dan hadits sahih tidak akan menyelisihi Al-Qur'an — karena keduanya dari sumber yang sama. Jika muncul “pertentangan”, hampir selalu ada kesalahan pemahaman di pihak kita.
- Ilmu menjaganya. Keduanya sampai kepada kita lewat rantai yang dijaga: Al-Qur'an lewat hafalan dan penulisan yang berkesinambungan, hadits lewat ilmu musthalah (kritik sanad dan matan). Menghormati keduanya berarti menghormati ilmu yang menjaganya — dan tidak mengklaim paham tanpa belajar dari ahlinya.
Di titik ini, anak tangga ketujuh bertemu dengan tulisan Hafal, Paham, Amal: fungsi Al-Qur'an dan hadits baru tercapai ketika keduanya dipahami dan diamalkan, bukan sekadar dihafal dan dibanggakan. Dua sumber petunjuk itu ibarat lampu — lampu yang paling terang sekalipun tidak akan menyinari jalan jika tidak pernah dinyalakan dengan tadabbur dan amal. Dan karena petunjuk itu sekarang sudah utuh di tangan kita, anak tangga berikutnya berbicara tentang bagaimana menjalaninya di dunia: anak tangga kedelapan, Hidup di Dunia.